<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pendidikan untuk Indonesia</title>
	<atom:link href="http://manajemenpendidikan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://manajemenpendidikan.com</link>
	<description>Menuju Sistem Pendidikan Nasional yang Lebih Baik</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Mar 2012 02:13:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Birrul Walidain, Berbakti kepada Kedua Orang Tua</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/birrul-walidain-berbakti-kepada-kedua-orang-tua/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/birrul-walidain-berbakti-kepada-kedua-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 02:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkarakter]]></category>
		<category><![CDATA[al isra: 23]]></category>
		<category><![CDATA[al isra: 24]]></category>
		<category><![CDATA[bakti orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[berbakti]]></category>
		<category><![CDATA[definisi birrul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[hormat kepada orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Luqman: 14]]></category>
		<category><![CDATA[patuh kepada kedua orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[ummahatul kutub]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan Berkarakter butir ke-1: Religius. Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan suatu masalah yang penting dalam Islam. Dalam Al Qur’an, setelah manusia diperintahkan untuk bertauhid kepada Allah, Allah swt memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang-tuanya. Allah berfirman dalam surat Al Isra’ ayat 23 s.d. 24: “Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/birrul-walidain-berbakti-kepada-kedua-orang-tua/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pendidikan Berkarakter butir ke-1: Religius.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Birrul Walidain</strong> (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan suatu masalah yang penting dalam Islam. Dalam Al Qur’an, setelah manusia diperintahkan untuk bertauhid kepada Allah, Allah swt memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang-tuanya. Allah berfirman dalam surat Al Isra’ ayat 23 s.d. 24:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu, maka janganlah mengatakan kepada keduanya “ah” dan janganlah kamu membentak keduanya.” <strong>(Q.S. Al Isra’: 23)</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah: Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.” <strong>(Q.S. Al Isra’: 24)</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Keterangan yang dihimpun oleh <strong>Al-Hafidz Ibnu Katsir</strong> mengenai ayat tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">Allah ta’ala telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. “Qadla” di sini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, <em>wa qadla</em> yaitu <em>washa</em> (Allah berwasiat).</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian dilanjutkan dengan “wabil waalidaini ihsaana” , hendaklah berbuat baik kepada orang tua dengan sebaik-baiknya. Ayat ini mempunyai makna yang sama dengan <strong>Surat Luqman ayat 14</strong>:</p>
<p style="text-align: justify;">“……. hendaklah kalian bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu dan kepada-Ku lah kalian kembali.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jika salah satu dari keduanya atau keduanya berada di sisimu dalam keadaan lanjut usia, “fa laa taqul lahuma uffin’aa”, maka janganlah berkata kepada keduanya “ah” (“cis” atau yang lainnya). Jangan memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wa laa tanharhuma” dan janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan “Wa laa tanharhuma ai la tanfudz yadaka alaihima”, maksudnya adalah jangnlah kalian mengibaskan tangan kepada keduanya. Ketika Allah melarang swt melarang perkataan dan perbuatan yang buruk, Allah swt juga memerintahkan untuk berbuat dan berkata yang baik. Seperti dalam firman Allah swt “wa qul lahuma qaulan karima” dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut dan baik dengan penuh adat dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang, hendaklah kalian bertawadlu kepada keduanya.  Dan hendaklah kalian berdoa, “Ya Allah sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidikku di waktu kecil”, pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga keduanya wafat.</p>
<div style="text-align: justify;">
<p>(Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39 s.d. 40, Cet. I Maktabah Daarus Salam Riyadh, Th. 1413H).</p>
</div>
<p style="text-align: justify;">Perintah Birrul Walidain juga tercantum dalam <strong>Surat An-Nisa ayat 36</strong>, Friman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, dengan kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.” (Q.S. An-Nisa: 36).</p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama terdahulu telah membahas masalah Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua) ini dalam kitab-kitab mereka. Seperti dalam Kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab-kitab hadits besar (Ummahatul Kutub) lainnya dalam pembahasan tentang berbakti kepada orang tua  dan ancaman terhadap orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tua.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini dirangkum dari Kitab Birrul Walidain edisi Indonesia, <strong>Berbakti kepada Kedua Orang Tua</strong> oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam – Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/birrul-walidain-berbakti-kepada-kedua-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengertian Berbuat Baik dan Durhaka kepada Kedua Orang Tua</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/pengertian-berbuat-baik-dan-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/pengertian-berbuat-baik-dan-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 02:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan Berkarakter]]></category>
		<category><![CDATA[definisi berbakti]]></category>
		<category><![CDATA[durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[sopan kepada kedua orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Menurut lughoh (bahasa), al-ihsan berasal dari kata ahsana-yuhsinu-ihsanan. Sedangkan yang dimaksud dengan ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada orang tua, yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Ibnu Athiyah menyebutkan, kita juga wajib mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/pengertian-berbuat-baik-dan-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menurut lughoh (bahasa), <em>al-ihsan</em> berasal dari kata <em>ahsana-yuhsinu-ihsanan</em>. Sedangkan yang dimaksud dengan ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada orang tua, yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Ibnu Athiyah menyebutkan, kita juga wajib mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa saja yang dilarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedang &#8216;<em>uquq </em>artinya memotong (seperti halnya aqiqah, yaitu memotong kambing). <em>&#8216;Uququl Walidain</em> adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang-tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan yang berupa perkataan adalah dengan mengatakan &#8220;ah&#8221; atau &#8220;cis&#8221;, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci, dan lainnya. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak memperdulikan, tidak bersilaturrahim, atau tidak memberikan nafkah kepada orang tuanya yang miskin.</p>
<h5 style="text-align: justify;">Demikian artikel <a title="berbakti kepada kedua orang tua" href="http://manajemenpendidikan.com/pengertian-berbuat-baik-dan-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/">pengertian berbuat baik dan durhaka kepada kedua orang tua</a>.</h5>
<h5 style="text-align: justify;">Artikel ini dirangkum oleh Darwis Suryantoro, dari sumber berjudul Birrul Walidain, Berbakti kepada Kedua Orang Tua, karangan Yazid bin Abdul Qadir Jawas.</h5>
<h5 style="text-align: justify;">kata kunci: pengertian, definisi, berbuat baik, orang tua, durhaka, berbakti.</h5>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/pengertian-berbuat-baik-dan-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengertian Operant Conditioning</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/pengertian-operant-conditioning/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/pengertian-operant-conditioning/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 13:43:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Model dan Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[definisi operant conditioning]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian teori pembiasan perilaku respon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Definisi, Arti, Pengertian Operant Conditioning Memahami Teori Pembiasan Perilaku Respon Dalam kamus psikologi disebutkan bahwa operant ialah setiap respon yang bersifat instrumental dalam menimbulkan akibat-akibat tertentu seperti suatu hadiah makanan atau satu kejutan listrik. Respon tersebut beroperasi ke dalam lingkungan, sementara conditioning mempunyai arti mempelajari respon tertentu (Kartini Kartono dan Dali Gulo, 1987:84 dalam Riyanto, [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/pengertian-operant-conditioning/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Definisi, Arti, Pengertian Operant Conditioning</h1>
<h2>Memahami Teori Pembiasan Perilaku Respon</h2>
<p style="text-align: justify;">Dalam kamus psikologi disebutkan bahwa operant ialah setiap respon yang bersifat instrumental dalam menimbulkan akibat-akibat tertentu seperti suatu hadiah makanan atau satu kejutan listrik. Respon tersebut beroperasi ke dalam lingkungan, sementara conditioning mempunyai arti mempelajari respon tertentu (Kartini Kartono dan Dali Gulo, 1987:84 dalam Riyanto, 2005:24). Di bawah ini merupakan beberapa arti atau definisi dari <strong>Operant Conditioning</strong>:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Suatu tipe (instrumental) <a title="teori operant conditioning dalam pendidikan" href="http://manajemenpendidikan.com/pengertian-operant-conditioning/">conditioning</a> yang melibatkan modifikasi operant respons melalui pemberian imbalan-imbalan. Dengan cara tertentu, suatu respon yang dipancarkan oleh organisme terjadi diperkuat sesuai dengan urutan waktunya, dan perubahan-perubahan yang ditimbulkannya dipelajari sebagai alat penguat respon yang biasa digunakan.</li>
<li>Suatu tipe belajar dengan mempelajari konsekuensi-konsekuensi atau akibat dari tingkah laku kita di dalam lingkungannya, perilaku-perilaku mana saja yang mendorong kita untuk menghindari akibat-akibat penguatan negatif &#8220;tidak menyenangkan&#8221;.</li>
<li>Suatu tipe pengkondisian instrumental yang mencakup modifikasi/ perubahan dari suatu operant, satu respon yang dipancarkan oleh suatu organisme kemudian diperkuat dengan cara-cara tertentu sesuai jadwal-jadwal tertentu dengan menghasilkan perubahan-perubahan dalam kecepatan kejadiannya, semuanya dipelajari (Kartini Kartono dan Dali Gulo, 1987:320 dalam Riyanto, 2005:25).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Teori Operant Conditioning</strong> dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai <strong>teori pembiasan perilaku respon</strong>, ditemukan oleh <a title="pencipta teori operant conditioning" href="http://en.wikipedia.org/wiki/B._F._Skinner" target="_blank">Burrhus Frederch Skinner</a> yang lahir tahun 1904, dia adalah penganut <a title="teori belajar behaviorisme behavioristik" href="http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-paham-behavioristik/" target="_blank">teori behaviorisme</a>. Karya tulis Skinner yang dianggap baru adalah &#8220;About Behaviorisme&#8221; yang diterbitkan pada tahun 1974 dengan tema pokok disebutkan bahwa tingkah laku itu dibentuk oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri. Ia mencetuskan asas &#8220;conditioning operant&#8221; pada tahun 1930 menanggapi <a title="teori belajar stimulus respon penjelasan terkait" href="http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-paham-behavioristik/" target="_blank">teori Stimulus-Respon</a> (S-R) yang dikembangkan oleh <a title="teori watson" href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_B._Watson" target="_blank">J.B Watson</a> (seseorang yang pada mulanya belajar filsafat kemudian pindah ke dunia psikologi, dan sejak tahun 1912, J.B Watson menjadi terkenal karena risetnya tentang proses belajar hewan). Watson menemukan model yang cocok dengan penelitiannya ketika membaca karya Ivan Petrovitch Pavlov (1849-1936) yang mengemukakan penelitiannya sebagai berikut: anjing dioperasi kelenjar lidahnya sedemikian rupa, sehingga memungknkan si peneliti untuk mengukur dengan teliti air liur yang keluar sebagai respon (reaksi) apabila terdapat perangsang dari mulut. (Sumadi Suryabrata, 1995:281 dalam Riyanto 2005:25).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dilakukan pengulangan terhadap percobaan tersebut, maka air liur telah keluar sebelum makanan sampai ke mulutnya:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>waktu mulut melihat piring makanannya</li>
<li>pada waktu melihat orang yang biasa memberikan makanan, bahkan</li>
<li>pada waktu mendengar langkah orang yang biasa memberikan makanan itu. (disampaikan oleh Sumadi Suryabrata).</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Skinner sendiri tidak sependapat dengan pandangan Stimulus-Respon (S-R) dan penjelasan tentang refleks bersyaraf di mana <a title="pengertian definisi stimulus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stimulus_%28fisiologi%29" target="_blank">stimulus</a> memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendor. Penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungan. Banyak tingkah laku menghasilkan perubahan-perubahan atau konsekuensi-konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh pada organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan-kemungkinan itu merespon nantinya. (Margaret E. Bell Gredler, 1986:115 dalam Riyanto, 2005:26).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Asas-asas skinner tentang conditioning operant</strong> memberikan pengarahan baru pada studi analisis tingkah laku. Studinya dimulai dengan analisis atas perbedaan-perbedaan antara refleks dan tingkah laku yang lain dan segera menyusul <strong>asas-asas mengenai conditioning operant</strong> (Margaret E. Bell Gredler, 1986:116 dalam Riyanto 2005:26).</p>
<p style="text-align: justify;">Baca Link/ Artikel Terkait:</p>
<p style="text-align: justify;">Teori Operant Conditioning tentang Tingkah Laku</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/pengertian-operant-conditioning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keuntungan Teori Belajar Elaborasi</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/keuntungan-teori-belajar-elaborasi/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/keuntungan-teori-belajar-elaborasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 06:52:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Model dan Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[cara menikmati belajar]]></category>
		<category><![CDATA[keuntungan teori belajar elaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat elaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat teori belajar elaborasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa keuntungan aplikasi teori elaborasi menurut Merril dan Twitchell (1994:80) dalam Riyanto (2005:22) antara lain: Siswa akan mempunyai retensi yang lama terhadap bahan ajar. Retensi atau ketahanan terhadap bahan ajar ini dapat berlangsung lama disebabkan karena materi atau bahan ajar yang diberikan kepada siswa diusahakan bermakna dan siswa mengalami sendiri apa-apa yang disajikan. Selain itu, [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/keuntungan-teori-belajar-elaborasi/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa <a title="Kelebihan keuntungan manfaat aplikasi teori elaborasi" href="http://manajemenpendidikan.com/keuntungan-teori-belajar-elaborasi/">keuntungan aplikasi teori elaborasi</a> menurut Merril dan Twitchell (1994:80) dalam Riyanto (2005:22) antara lain:</p>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Siswa akan mempunyai retensi yang lama terhadap bahan ajar. Retensi atau ketahanan terhadap bahan ajar ini dapat berlangsung lama disebabkan karena materi atau bahan ajar yang diberikan kepada siswa diusahakan bermakna dan siswa mengalami sendiri apa-apa yang disajikan. Selain itu, bahan yang disajikan saling terkait antara satu dengan yang lainnya.</li>
<li style="text-align: justify;">Siswa akan memperoleh pengetahuan secara utuh. Cara penyajian bahan ajar dilakukan secara berurutan yang pada akhirnya akan membuat siswa memahami materi yang diberikan  secara utuh. Hal ini memungkinkan karena dalam proses pembelajaran tidak terjadi pengulangan-pengulangan bahan ajar yang dirasa tidak perlu. bahan ajar disajikan dalam urutan yang jelas dan diberikan sedetail mungkin. Jika perlu, siswa dapat menggalinya sendiri di luar sumber-sumber belajar yang telah disediakan.</li>
<li style="text-align: justify;">Siswa akan lebih menikmati belajar. Penyajian bahan ajar di kelas pada prinsipnya tetap memperhatikan kebutuhan siswa dalam belajar. Didasarkan pada prinsip <em>individual differences</em>, maka penyajian bahan ajar ini tetap mengacu pada tingkat kemampuan masing-masing siswa yang berbeda. hal ini dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap kemampuan siswa pada awal pertemuan. Dengan data pengamatan ini, selanjutnya dapat didesain metode pembelajaran yang sesuai dengan ciri masing-masing siswa. Harapannya, siswa dapat lebih menikmati belajar.</li>
<li style="text-align: justify;">Siswa akan mempunyai motivasi yang tinggi untuk mempelajari bahan ajar. Penyampaian bahan ajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa pada akhirnya diharapkan dapat memacu motivasi siswa untuk lebih mendalami bahan ajar yang disajikan.</li>
</ul>
<p>Baca Link Terkait:</p>
<p><a title="Tuntunan cara langkah penyusunan dan pengembangan desain belajar pembelajaran dalam teori elaborasi" href="http://manajemenpendidikan.com/langkah-langkah-pengembangan-desain-pembelajaran-dalam-teori-elaborasi/" target="_blank">Step by Step: Pengembangan Desain Pembelajaran Dalam Teori Elaborasi</a></p>
<p><a title="Definisi pemahaman desain belajar mengajar elaborasi" href="http://manajemenpendidikan.com/desain-pembelajaran-elaborasi/" target="_blank">Memahami Desain Pembelajaran Elaborasi</a></p>
<p><a title="Memahami teori belajar sibernetik, definisi teori belajar sibernetik" href="http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-sibernetik/" target="_blank">Teori Belajar Aliran Sibernetik</a></p>
<p><a title="istilah teori belajar humanistik" href="manajemenpendidikan.com/teori-belajar-paham-humanistik/" target="_blank">Teori Belajar Humanistik</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikianlah beberapa <strong>keuntungan teori belajar elaborasi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/keuntungan-teori-belajar-elaborasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN DALAM TEORI ELABORASI</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/langkah-langkah-pengembangan-desain-pembelajaran-dalam-teori-elaborasi/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/langkah-langkah-pengembangan-desain-pembelajaran-dalam-teori-elaborasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 05:01:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Model dan Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[analisis bidang studi]]></category>
		<category><![CDATA[analisis karakteristik siswa]]></category>
		<category><![CDATA[analisis mata pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[cara menetapkan tujuan belajar]]></category>
		<category><![CDATA[cara menetapkan tujuan pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[karakteristik bidang studi]]></category>
		<category><![CDATA[karakteristik mata pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[langkah pengembangan teori pembalajaran]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan desain pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[teknik penyampaian tujuan belajar]]></category>
		<category><![CDATA[teori elaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[TIK]]></category>
		<category><![CDATA[TPK]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan instruksional khusus]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan pembelajaran khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Setelah mempelajari tentang teori dasar elaborasi belajar dan langkah-langkah desain pembelajaran dalam teori elaborasi, tiba saatnya untuk mendesain proses belajar-mengajar dalam teori elaborasi. Dalam teori elaborasi, terdapat langkah-langkah pengembangan teori pembelajaran. Disebutkan dalam Riyanto (2005:20) dalam Degeng (1997:13) bahwa langkah-langkah pengembangan yang didasarkan pada teori elaborasi adalah sebagai berikut: Analisis tujuan dan karakteristik bidang studi. [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/langkah-langkah-pengembangan-desain-pembelajaran-dalam-teori-elaborasi/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah mempelajari tentang <a title="Pengertian dan teori dasar elaborasi belajar" href="http://manajemenpendidikan.com/desain-pembelajaran-elaborasi/" target="_blank">teori dasar elaborasi</a> belajar dan <a title="cara menyusun langkah desain materi pembelajaran dalam teori elaborasi" href="http://manajemenpendidikan.com/desain-pembelajaran-elaborasi/" target="_blank">langkah-langkah desain pembelajaran dalam teori elaborasi</a>, tiba saatnya untuk mendesain proses belajar-mengajar dalam teori elaborasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam teori elaborasi, terdapat langkah-langkah pengembangan teori pembelajaran. Disebutkan dalam Riyanto (2005:20) dalam Degeng (1997:13) bahwa langkah-langkah pengembangan yang didasarkan pada teori elaborasi adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong>Analisis tujuan dan karakteristik bidang studi</strong>. Pada tahap ini, seorang perancang pembelajaran akan menetapkan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Pada hakekatnya, <strong>tujuan pembelajaran</strong> adalah menginformasikan apa yang harus dicapai oleh siswa pada akhir pembelajaran (Hartley dan Davis dalam Degeng, 1997:75). Penyampaian tujuan belajar pada awal pertemuan menjadi sangat penting karena tujuan belajar ini akan menjadi perhatian utama siswa, dan dengan diberikannya tujuan belajar ini, siswa diharapkan akan dapat mengaitkan prestasi atau perilaku yang diharapkan. Penelitian Degeng menyatakan bahwa, siswa yang diberitahu tujuan belejarnya sebelum belajar dimulai, memperlihatkan hasil belajar yang lebih tinggi dari siswa yang tidak diberitahu tujuan belajarnya.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Analisis sumber belajar</strong>. Pada tahap ini, seorang perancang akan mencoba untuk menentukan sumber-sumber belajar yang dapat dipergunakan serta menentukan kendala-kendala yang mungkin akan muncul. Dalam hal ini, perancang mengadakan estimasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan sumber belajar. Dari proses ini maka seorang perancang akan dapat membuat suatu daftar yang memuat sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Analisis karakteristik si belajar</strong> (siswa, pen). Pada tahap ini, seorang perancang pembelajaran akan mencoba untuk mempelajari dan memahami siswa yang akan diberikan bahan ajar. Pada tahap ini perlu bagi perancang untuk mengadakan pengamatan terhadap karakteristik siswa. Dengan memahami karakteristik masing-masing siswa, maka perancang akan dapat membantu dalam menentukan strategi belajar apa yang dapat diberikan untuk masing-masing sisw. Dengan demikian, seorang perancang akan memperhatikan adanya perbedaan masing-masing siswa (individual differences). Pada tahap ini, perancang akan dapat membuat daftar karakteristik si belajar.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran</strong>. Tahap ini sebenarnya dapat segera diselesaikan pada saat perancang menetapkan tujuan belajar dan menentukan karakteristik bidang studi (mata pelajaran, pen). Pada tahan ini, perancang akan membuat tujuan belajar seperti yang kita kenal selama ini yaitu tujuan pembelajaran khusus (TPK) atau sering juga disebut dengan tujuan instruksional khusus (TIK). Dengan demikian, pada tahap ini, perancang mulai menentukan spesifikasi atau hasil apa yang akan diperoleh oleh siswa pada akhir tiap-tiap bab pada proses pembelajaran.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran</strong>. Pada tahap ini, perancang pembelajaran akan menentukan bagaimana isi pembelajaran ini akan diorganisasikan. Pengorganisasian ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik bahan ajar serta tujuan pembelajaran tersebut. Dengan demikian, untuk karakteristik bidang studi yang satu akan berbeda dengan karakteristik bidang studi yang lain dalam upaya menentukan pengorganisasian isi pembelajaran.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran</strong>. Penetapan strategi penyampaian sisa pembelajaran akan sangat bergantung pada usaha perancang dalam menentukan sumber belajar yang akan dipergunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Sebab, penyampaian strategi pembelajaran tertentu akan mempergunakan sumber belajar yang ada, sehingga dapat dihindari penggunaan strategi penyampaian isi belajar yang tidak mempunyai sumber belajar.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran</strong>. Tahap pengelolaan pembelajaran ini sangat bergantung pada upaya perancang pembelajaran dalam menetukan karakteristik siswa. Sebab dalam tahap ini, diperlukan masukan tentang karakteristik siswa dalam upaya untuk menentukan penjadwalan penggunaan komponen strategi pengorganisasian dan penyampaian pembelajaran, pengelolaan motivasional, pembuatan catatan kemajuan belajar siswa dan kontrol belajar (Degeng, 1997:16).</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran</strong>. Pada tahap akhir ini, perancang pembelajaran akan melakukan pengukuran terhadap hasil pembelajaran yang mencakup tingkat keefektifan, efisiensi dan daya tarik pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan dengan mengadakan penghematan terhadap proses pembelajaran dan tes hasil belajar (Degeng, 1997:16).</li>
</ol>
<p>Judul buku rujukan: PARADIGMA PEMBELAJARAN &#8211; Prof. Dr. Yatim Riyanto, M.Pd.</p>
<p>Baca artikel terkait:</p>
<p><a title="Rancangan pembelajaran dari teori belajar elaborasi" href="http://manajemenpendidikan.com/desain-pembelajaran-elaborasi/">Desain Pembelajaran Elaborasi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/langkah-langkah-pengembangan-desain-pembelajaran-dalam-teori-elaborasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desain Pembelajaran Elaborasi</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/desain-pembelajaran-elaborasi/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/desain-pembelajaran-elaborasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 03:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Model dan Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu elaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[definisi elaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[desain materi pembelajaran dalam teori elaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[elaborasi belajar]]></category>
		<category><![CDATA[gradual elaboration principle]]></category>
		<category><![CDATA[initial synthesis principle]]></category>
		<category><![CDATA[introduction of familiarization principle]]></category>
		<category><![CDATA[metode elaborasi belajar]]></category>
		<category><![CDATA[most important first principle]]></category>
		<category><![CDATA[optimal size principle]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian elaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian epitome]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip elaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[strategi kognitif belajar]]></category>
		<category><![CDATA[teori elaborasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Degeng menyebutkan bahwa desain elaborasi adalah suatu cara untuk mengorganisasikan pembelajaran, mulai dari memberikan kerangka isi dari bidang studi yang diajarkan. Setelah diberikan gambaran secara utuh, maka hal berikutnya adalah memilah-milah pokok bahasan tersebut menjadi bagian-bagian yang rinci. Bagian-bagian yang telah dipilah ini kemudian dijadikan sub bagian, kemudian dikerucutkan lagi menjadi sub bab atau bahasan [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/desain-pembelajaran-elaborasi/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Degeng menyebutkan bahwa desain elaborasi adalah suatu cara untuk mengorganisasikan pembelajaran, mulai dari memberikan kerangka isi dari bidang studi yang diajarkan. Setelah diberikan gambaran secara utuh, maka hal berikutnya adalah memilah-milah pokok bahasan tersebut menjadi bagian-bagian yang rinci. Bagian-bagian yang telah dipilah ini kemudian dijadikan sub bagian, kemudian dikerucutkan lagi menjadi sub bab atau bahasan yang lebih kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, Reigeluth menyebutkan bahwa, teori elaborasi merupakan proses instruksional yang dimulai dengan mengadakan ikhtisar yang mengajarkan pandangan-pandangan secara umum, simpel, dan mendasar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRINSIP-PRINSIP ELABORASI</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Disebutkan dalam Merril dan Twitchell juga Degeng, terdapat delapan prinsip dalam pembelajaran yang menggunakan teori elaborasi, yaitu:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Initial Synthesis Principle</strong>, yaitu penyajian kerangka isi (epitome) pada awal proses pembelajaran (dengan tujuan efektivitas dan efisiensi dalam pembelajaran). Fase pertama dalam proses belajar-mengajar adalah dengan menunjukkan bagian-bagian utama pada mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan.</li>
<li><strong>Gradual Elaboration Principle</strong>, yaitu pengaturan secara bertahap dari urutan yang dibentuk. Elaborasi tahap kedua ini akan mengelaborasikan bagian-bagian yang termaktub dalam elaborasi tahap pertama, sehingga urutan pembelajaran bergerak dari umum ke khusus dan dari sederhana ke kompleks.</li>
<li><strong>Introductory Familiarization Principle</strong>, yaitu dengan menyesuaikan pengaturan dengan hal-hal yang telah diketahui oleh siswa. Pada tahap ini, pengajar akan mencoba untuk menemukan bahan-bahan ajar atau contoh kasus yang telah diketahui oleh siswa. Ini dilakukan untuk mempermudah siswa dalam memahami konsep yang akan diberikan pada pertemuan-pertemuan berikutnya.</li>
<li><strong>Most Important First Principle</strong>, yaitu berkenaan dengan pengaturan terhadap hal-hal yang dianggap penting, yang ditempatkan pada awal-awal pertemuan, dengan pertimbangan bahwa bahan ajar tersebut dapat memberikan kontribusi pada peserta didik dalam memahami secara keseluruhan. Hal ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan motivasi, transfer, dan retensi yang berkelanjutan.</li>
<li><strong>Optimal Size Principle</strong>, memuat berbagai fakta, konsep, dan prosedur yang didesain supaya dapat dikenal atau diketahui dengan mudah oleh siswa dan berhubungan dengan memori jangka pendek siswa. Dalam proses pembelajaran, fakta-fakta tersebut dapat ditampilkan dengan memberikan contoh tentang perilaku yang terjadi di dalam kelas atau dengan cara menyajikan kliping atau sejenisnya yang diharapkan dapat mengungkapkan apa saja yang telah dipahaminya mealui proses diskusi di dalam kelas.</li>
<li><strong>Periodic Synthesis Principle</strong>, yaitu bahan ajar disintesis dan ditunjukkan pada setiap akhir pembelajaran dengan menunjukkan relasi yang lebih dalam dari suatu kerangka isi. Pengajar akan memberikan penjelasan tentang hubungan antara bahan ajar dengan bahan ajar berikutnya, dengan tujuan agar siswa dapat mempunyai gambaran awal terhadap bahan ajar yang disajikan tersebut.</li>
<li><strong>Periodic Summary Principle</strong>, dengan menunjukkan rangkuman di akhir setiap bahan ajar.</li>
<li><strong>Type of Synthesis Principle</strong>, yaitu sintesis bahan ajar yang disesuaikan dengan kondisi yang ada, seperti struktur konseptual, struktur teoritis untuk isi teoritis dan struktur prosedural untuk isi prosedural.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Masih pada sumber yang sama, terdapat tujuh komponen strategi dalam teori elaborasi, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;">1. A SPECIAL TYPE OF SIMPLE TO COMPLEX SEQUENCE</p>
<p style="text-align: justify;">Hal tersebut dapat dikatakan sebagai urutan elaboratif yaitu urusan dari sederhana ke kompleks atau dari umum ke khusus. Pada tahap ini, didorong agar siswa mampu memahami hal-hal yang bersifat umum terlebih dahulu ayng akan saling mengaitkan dengan bagian-bagian berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">2. LEARNING PREREQUISITE SEQUENCES</p>
<p style="text-align: justify;">Dapat dimaknai sebagai urutan prasyarat belajar atau hierarki belajar. Dari pengertian tersebut, maka penyajian isi bidang studi tidak akan dilakukan sebelum isi bidang studi yang menjadi prasyarat disajikan.</p>
<p style="text-align: justify;">3. SUMMARIZES</p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu rangkuman yang berfungsi untuk memberikan pernyataan singkat mengenai isi bidang studi yang telah dipelajari dan contoh-contoh pedoman yang mudah diingat untuk setiap prosedur, konsep, atau prinsip yang diajarkan. Tujuan ringkasan menurut degeng selain sebagai upaya untuk menyatakan kembali apa yang telah dipelajari oleh siswa, tujuan ringkasan ini adalah agar si belajar mengalami retensi yang kuat terhadap apa-apa yang telah disampaikan selama proses pembelajaran.</p>
<p style="text-align: justify;">4. SYNTHESIZERS</p>
<p style="text-align: justify;">Merupakan komponen strategi teori elaborasi yang berfungsi untuk menunjukkan hubungan-hubungan di antara konsep-konsep, prosedur-prosedur, dan prinsip-prinsip yang diajarkan. Tujuan dari pengaitan hubungan-hubungan tersebut adalah membantu siswa agar lebih mudah dalam konsep, prosedur, dan prinsip tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">5. ANALOGIES</p>
<p style="text-align: justify;">Analogies digunakan untuk mempermudah pemahaman pelajar terhadap bahan ajar yang telah diberikan dengan cara membandingkan dengan pengetahuan yang telah dikenal oleh pelajar tersebut. Makin dekat persamaan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dijadikan analogi, maka semakin efektif penggunaan analogi tersebut. Analogi akan lebih baik jika diberikan sebelum pengetahuan baru diberikan kepada siswa.</p>
<p style="text-align: justify;">6. COGNITIVE STRATEGY ACTIVATOR</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Rigney, terdapat dua cara untuk mengaktifkan strategi kognitif yaitu dengan <strong>embedded strategy </strong>dan <strong>detached strategy</strong>. Embedded strategy dilakukan dengan merancang pengajaran sedemikian rupa sehingga pelajar pun &#8220;dipakasa&#8221; untuk menggunakannya, bisa dilakukan dengan menggunakan gambar, analogi parafrase, dan mnemonic, bisa juga dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan penuntut atau disebut juga dengan <strong>detached strategy</strong>, yaitu usaha untuk meminta pelajar untuk menunjukkan apa yang sudah dipelajari.</p>
<p style="text-align: justify;">7. A LEARNER CONTROL FORMAT</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Merril, kontrol belajar merujuk pada kebebasan pelajar dalam melakukan pilihan dan pengurutan terhadap isi yang dipelajari, kecepatan belajar, komponen strategi pembelajaran, dan strategi kognitif yang digunakan. Dalam kasus ini, siswa dapat menentukan sendiri epitominya, menentukan waktu belajarnya, dan bagaimana dia belajar dan merangkum bahan belajarnya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TEORI ELABORASI DALAM DESAIN MATERI PEMBELAJARAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di bawah ini disebutkan langkah-langkah desain materi pembelajaran dalam teori elaborasi yang dirangkum dari tulisan Degeng, Merril and Twitchell:</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong>Penyajian kerangka isi</strong>. Proses awal belajar-mengajar disajikan dengan kerangka isi, yaitu struktur yang memuat bagian-bagian yang paling penting dari bidang studi.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Elaborasi tahap pertama</strong>. Dalam teori elaborasi, elaborasi tahap pertama dimulai dengan mengurutkan tiap-tiap bagian yang ada dalam kerangka isi, dari bagian-bagian terpenting. Di akhir tiap elaborasi diakhiri dengan rangkuman dan pensintesis yang hanya mencakup konstruk-konstruk yang baru saja diajarkan.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Pemberian rangkuman dan sintesis internal</strong>. Tahap ini adalah tahap pemberian rangkuman, berisi pengertian-pengertian singkat mengenai konstruk yang diajarkan dalam elaborasi.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Elaborasi tahap kedua</strong>. Pada elaborasi tahap kedua, siswa dibawa pada tingkat kedalaman seperti yang dituntut dalam tujuan pembelajaran. Elaborasi tahapkedua ini dilakukan seperti pada elaborasi tahap pertama (diakhiri dengan rangkuman dan pensintesis internal) yang disebut juga sebagai <em>expended epitome</em>.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Pemberian rangkuman dan sintesis eksternal</strong>. Sintesis eksternal dilakukan seperti tahap pertama.</li>
<li style="text-align: justify;">Dilakukan tahap-tahap seperti tahap pertama dan kedua, hingga pada kedalaman tertentu seperti yang telah ditetapkan pada tujuan pembelajaran.</li>
<li style="text-align: justify;">Kerangka isi disajikan kembali untuk mensintesiskan keseluruhan isi mata pelajaran atau <em>terminal epitome</em> yang telah diajarkan.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/desain-pembelajaran-elaborasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Model-Model Pembelajaran</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/model-model-pembelajaran/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/model-model-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 03:09:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Model dan Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu desain pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[definisi desain pemelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[desain instruksional]]></category>
		<category><![CDATA[desain pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[desain pembelajaran adalah]]></category>
		<category><![CDATA[instructional design]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian desain pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Definisi dan Pengertian Desain Pembelajaran Definisi dari desain pembelajaran adalah: suatu prosedur yang terorganisasi, yang terdapat di dalamnya langkah-langkah dalam menganalisis, mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, dan menyelenggarakan evaluasi. Twerlker, Urbach, dan Buck menyebutkan definisi desain pembelajaran sebagai cara yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi satu set bahan dan strategi belajar dengan maksud mencapai suatu tujuan [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/model-model-pembelajaran/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Definisi dan Pengertian Desain Pembelajaran</h2>
<p style="text-align: justify;">Definisi dari desain pembelajaran adalah: suatu prosedur yang terorganisasi, yang terdapat di dalamnya langkah-langkah dalam menganalisis, mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, dan menyelenggarakan evaluasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Twerlker, Urbach, dan Buck menyebutkan definisi desain pembelajaran sebagai cara yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi satu set bahan dan strategi <a title="Definisi dan Pengertian belajar, belajar adalah" href="http://manajemenpendidikan.com/apa-itu-belajar/" target="_blank">belajar</a> dengan maksud mencapai suatu tujuan tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">AT&amp;T juga menyatakan bahwa desain pembelajaran sebagai suatu resep dalam menyusun peristiwa dan kegiatan yang diperlukan untuk memberikan petunjuk ke arah pencapaian tujuan belajar tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Reigeluth menyatakan bahwa desain pembelajaran (atau sering juga disebut desain instruksional) lebih memperhatikan pada pemahaman, perubahan, dan penerapan metode-metode pembelajaran. Guru atau pengajar mempunyai tugas untuk memilih dan menentukan jenis metode yang dapat digunakan untuk mempermudah penyampaian bahan ajar supaya siswa dapat menerimanya dengan mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">Baca selanjutnya: <a title="Model Pembelajaran Elaborasi" href="http://manajemenpendidikan.com/desain-pembelajaran-elaborasi/">Desain Pembelajaran Elaborasi</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Desain pembelajaran</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/model-model-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Belajar Aliran Sibernetik</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-sibernetik/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-sibernetik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 03:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Definisi Istilah Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Model dan Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi teori belajar sibernetik]]></category>
		<category><![CDATA[implementasi teori belajar sibernetik]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran teori sibernetik]]></category>
		<category><![CDATA[teori belajar sibernetik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang dianggap paling baru, berkembang sejalur dengan kemajuan ilmu informasi. Menurut teori belajar sibernetik ini, belajar adalah sebuah pengelolaan informasi. Jika melihat secara kasat mata, teori ini mempunyai kesamaan dengan teori belajar kognitif yang mementingkan pada proses, tetapi esensi yang paling penting adalah sistem informasi yang diproses itu, kemudian [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-sibernetik/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Teori belajar sibernetik</strong> merupakan <a title="definisi dan pengertian belajar" href="http://manajemenpendidikan.com/apa-itu-belajar/" target="_blank">teori belajar </a>yang dianggap paling baru, berkembang sejalur dengan kemajuan ilmu informasi. Menurut teori belajar sibernetik ini, belajar adalah sebuah pengelolaan informasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika melihat secara kasat mata, teori ini mempunyai kesamaan dengan teori belajar kognitif yang mementingkan pada proses, tetapi esensi yang paling penting adalah sistem informasi yang diproses itu, kemudian informasi inilah yang akan menentukan suatu proses.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat lain yang sepaham dengan <strong>teori sibernetik</strong> adalah tidak adanya suatu proses belajar yang ideal untuk segala situasi yang cocok untuk semua siswa. Maka, sebuah informasi mungkin akan dipelajarai seorang siswa dengan satu macam proses belajar, dan informasi yang sama tersebut mungkin saja akan dipelajari siswa lain melalui proses belajar yang berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>TEORI BELAJAR SIBERNETIK</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-sibernetik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Belajar Paham Humanistik</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-paham-humanistik/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-paham-humanistik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Sep 2011 08:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Definisi Istilah Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Model dan Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[definisi paham humanisme]]></category>
		<category><![CDATA[paham humanistik dalam teori belajar]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian faham humanistik]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan teori humanistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Teori humanisme disebut sebagai teori yang paling abstrak. yaitu teori yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan dan merupakan proses belajar yang paling ideal dengan ketertarikan pada ide belajar (dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar dengan apa adanya). Bloom dan Rathwohl merupakan penganut teori belajar aliran humanistik ini. Mereka menunjukkan apa yang mungkin [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-paham-humanistik/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a title="apa itu paham belajar teori humanistik" href="http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-paham-humanistik/">Teori humanisme</a> disebut sebagai teori yang paling abstrak. yaitu teori yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan dan merupakan proses belajar yang paling ideal dengan ketertarikan pada ide belajar (dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar dengan apa adanya).</p>
<p style="text-align: justify;">Bloom dan Rathwohl merupakan penganut <strong>teori belajar aliran humanistik</strong> ini. Mereka menunjukkan apa yang mungkin saja dikuasai oleh siswa yang terbagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wilayah Kognitif</strong>, terdiri dari 6 (enam) tingkatan, yaitu:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>pengetahuan menghafal</li>
<li>pemahaman atau menginterprestasikan</li>
<li>aplikasi, dengan menggunakan konsep untuk mengatasi suatu masalah (problem solving)</li>
<li>tingkatan analisis, yaitu menjabarkan suatu konsep</li>
<li>sintesis, yaitu menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh</li>
<li>evaluasi, dengan membandingkan nilai-nilai, ide, metode, cara, konsep, dan lain sebagainya</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kawasan Psikomotorik</strong>, yang terdiri dari 5 (lima) tingkatan, yaitu:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>peniruan</li>
<li>penggunaan konsep untuk melakukan gerak</li>
<li>keakuratan</li>
<li>perangkaian, melakukan beberapa gerakan sekaligus ddengan benar</li>
<li>naturalisasi yaitu melakukan gerakan secara wajar</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wilayah Afektif</strong>, terdiri dari lima (5) tingkatan, yaitu:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>pengenalan, dengan ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu</li>
<li>merespon aktif</li>
<li>penghargaan</li>
<li>pengorganisasian</li>
<li>pengalaman</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Model Belajar Bloom inilah yang paling populer digunakan sebagai rujukan para pengajar atau pendidik di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Pakar pendidikan yang menganut <strong>faham belajar humanistik</strong> lain adalah Kolb, yang membagi tahapan belajar menjadi empat, yaitu:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengalaman nyata.</li>
<li>Pengamatan aktif dan reflektif.</li>
<li>Konseptualisasi.</li>
<li>Percobaan secara aktif.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pada tahap paling awal dalam proses belajar, seorang siswa mungkin hanya mampu ikut mengalami suatu kejadian, namun belum mempunyai kesadaran tentang hakekat kejadian tersebut. Siswa juga belum memahami mengapa dan bagaimana suatu kejadian terjadi seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahap kedua proses belajar menurut penganut <strong>Teori belajar Aliran Humanisme</strong> ini adalah, siswa tersebut lama-kelamaan akan mampu melakukan pengamatan aktif terhadap kejadian tersebut. kemudian mulai berusaha memikirkan dan memahaminya. Kemudian pada tahap belajar berikutnya, siswa mulai belajar untuk membangun abstraksi atau teori tentang suatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini, siswa diharapkan sudah mampu membuat aturan-aturan umum dari beberapa contoh kejadian yang walaupun nampak berbeda-beda, namun mempunyai acuan aturan yang sama. Kemudian, terjadilah tahap eksperimen aktif pada tahap akhir, yaitu siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke kondisi yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Kolb juga menyebutkan bahwa, siklus belajar seperti tersebut di atas terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran siswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Tipe-tipe siswa yang terlibat dalam tahapan tersebut juga bermacam-macam. Ada siswa yang bertipe reflektor, ia akan sangat berhati-hati dalam melangkah. Ia akan bersifat konservatif atau lebih menimbang-nimbang antara baik dan buruknya secara cermat sebelum mengambil sebuah keputusan. Hal ini tidak terjadi pada siswa yang bersifat teoris, ia akan sangat kritis dan menjadi analisator yang baik, serta tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subyektif.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut siswa yang bertipe teoris, berpikir rasional merupakan hal yang sangat penting (ia tidak menyukai hal-hal yang spekulatif)</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, siswa yang bertipe pragmatis lebih mnaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari semua hal. Menurutnya, teori memang penting, namun untuk apa jika teori tersebut tidak dipraktekkan. Bagi mereka, semua yang diteorikan harus bisa dipraktikkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Artikel Terkait:</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Layanan BK Bimbingan Konseling, Bimbingan Karier, Bimbingan dan Penyuluhan Siswa di Sekolah" href="http://suryantara.wordpress.com/2011/09/26/panduan-pengembangan-diri-melalui-pelayanan-konseling/">Panduan Pengembangan Diri Melalui Layanan Bimbingan Konseling</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Permendiknas nomor 24 tahun 2006 dan nomor 6 tahun 2007" href="http://suryantara.wordpress.com/2011/09/26/permendiknas-nomor-24-tahun-2006-dan-nomor-06-tahun-2007/" target="_blank">Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Pendidikan Untuk Indonesia, membandingkan model kurikulum sekolah" href="http://suryantara.wordpress.com/2011/09/22/perbandingan-struktur-kurikulum-sd-smp-dan-sma/" target="_blank">Perbandingan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar dan Menengah</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Paham Humanistik menurut Permendiknas" href="http://suryantara.wordpress.com/2011/09/22/permendiknas-nomor-22-tahun-2006/" target="_blank">Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Tentang Standar Isi Pendidikan</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Hubungan teori belajar aliran humanisme dan Model Pembelajaran Efektif" href="http://suryantara.wordpress.com/2011/09/20/inovasi-pembelajaran-efektif/" target="_blank">Cara dan Metode Belajar Efektif</a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Teori Belajar Aliran Humanistik</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-paham-humanistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Belajar Aliran Kognitif</title>
		<link>http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-kognitif/</link>
		<comments>http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-kognitif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 22:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Darwis Suryantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Definisi Istilah Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Model dan Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[aliran kognitif gestalt]]></category>
		<category><![CDATA[belajar kognitif menurut David Ausubel]]></category>
		<category><![CDATA[belajar menurut teori kohler]]></category>
		<category><![CDATA[definisi belajar menurut teori gestalt]]></category>
		<category><![CDATA[paham belajar kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan teori bruner dan ausubel]]></category>
		<category><![CDATA[persamaan teori bruner dan ausubel]]></category>
		<category><![CDATA[tahapan proses belajar]]></category>
		<category><![CDATA[teori belajar menurut Jean Piaget]]></category>
		<category><![CDATA[teori cognitive field menurut kurt lewin]]></category>
		<category><![CDATA[teori discovery learning menurut J. Dewey]]></category>
		<category><![CDATA[teori kognitif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manajemenpendidikan.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Teori Belajar Paham Kognitif. Kepentingan proses belajar merupakan pengaruh utama dari teori belajar paham kognitif ini. Perlu diketahui bahwa belajar tidak hanya berhubungan antara respon dan stimulus, namun juga melibatkan proses berpikir yang kompleks. Teori kognitif menyebutkan bahwa, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Jean Piaget menyebutkan bahwa [&#8230;] <a class="more-link" href="http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-kognitif/">&#8595; Read the rest of this entry...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Teori Belajar Paham Kognitif</strong>. Kepentingan proses belajar merupakan pengaruh utama dari <a title="definisi teori belajar kognitif" href="http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-kognitif/">teori belajar paham kognitif</a> ini. Perlu diketahui bahwa belajar tidak hanya berhubungan antara respon dan stimulus, namun juga melibatkan proses berpikir yang kompleks.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="apa itu teori belajar paham aliran kognitif" href="http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-kognitif/">Teori kognitif</a> menyebutkan bahwa, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Penemu teori belajar kognitif, pakar pendidikan, pakar psikologi" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jean_Piaget" target="_blank">Jean Piaget</a> menyebutkan bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Proses Asimilasi, yaitu proses penyatuan atau integrasi informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.</li>
<li>Proses akomodasi, yaitu penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru.</li>
<li>Proses Ekuilibrasi. Proses equilibrasi disebut juga proses penyeimbangan, adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Untuk pelajar yang telah memahami prinsip penjumlahan dan prinsip pembagian, maka proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah dimengerti) dan prinsip pembagian (sebagai informasi baru), maka ini disebut sebagai proses asimilasi belajar. Jika pelajar diberi soal tentang pembagian, maka situasi ini disebut sebagai akomodasi, yang dalam konteks ini berarti penggunaan prinsp pembagian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat pula <strong>aliran kognitif model Gestalt</strong>. ia adalah pakar psikologi. Dalam Bahasa Jerman, &#8220;gestalt&#8221; berarti &#8220;whole configuration&#8221;, dapat diartikan sebagai: pola, kesatuan, atau bentuk yang utuh. Dalam belajar, siswa atau pelajar harus mampu menangkap makna dari hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain (relasi). Penggunaan makna dari &#8220;hubungan&#8221; inilah yang disebut memahami, atau insight. Menurut paham <a title="Apa itu teori gestalt. model-model teori gestalt" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gestalt" target="_blank">Gestalt</a>, semua kegiatan belajar menggunakan insight atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan, utamanya hubungan antara bagian dan keseluruhan. Pengamatan dan pemahaman mendadak utamanya  terhadap hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan. Ini merupakan konsep yang terpenting dalam teori Gestalt. Teori ini juga menyebutkan bahwa, seorang pengajar dalam proses pembelajaran dengan pelajar tidak memberikan  potongan-potongan atau bagian-bagian, namun selalu suatu kesatuan yang utuh, mendorong siswa untuk menemukan hubungan antar bagian dalam suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung permasalahan-permasalahan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Teori Gestalt</strong> juga menyebutkan bahwa pengamatan manusia awalnya bersifat global terhadap obyek-obyek yang dilihat, sehingga belajar harus dimulai dari keseluruhan, setelah itu berproses pada bagian-bagiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Teori lainnya yang berkaitan dengan paham belajar aliran kognitif adalah <strong>Teori Kohler</strong>, ia juga penganut paham Gestalt, menyatakan bahwa belajar adalah proses yang didasarkan pada &#8220;insight&#8221;. Ia membuktikan teorinya dengan penelitiannya terhadap seekor kera di Pulau Canary.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam penelitiannya, <a title="Membedah teori kohler. Teori inovatif pembelajaran kohler" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kohler_theory" target="_blank">Kohler </a>menempatkan seekor kera dalam sebuah kandang yang besar dengan setandan pisang yang digantung di dinding. Kera tidak dapat meraih pisang, namun jika kera tersebut mengumpulkan dan menumpukkan dua kotak kayu bersama-sama, ia dapat mendaki dan meraihnya. Kohler mengamati bagaimana kera belajar untuk menyusun beberapa kotak tersebut untuk mengambil pisang dan mengamati sedikit bukti dari proses, percobaan, dan kesalahan-kesalahan. Kemudian dari hasil pengamatannya tersebut, Kohler menemukian bukti bahwa kera merasakan situasi permasalahan dan percobaan untuk menemukan solusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Teori pendukung aliran kognitif lainnya adalah <strong>Teori &#8220;Cognitive-Field&#8221;</strong> yang dikembangkan oleh <strong>Kurt Lewin</strong> dengan meletakkan perhatian kepada kepribadian (personality) dan psikologi sosial. <a title="kurt lewnin, penggagas teori Lewin yang mendukung teori belajar faham kognitif" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kurt_Lewin" target="_blank">Lewin</a> melihat bahwa masing-masing individu berada dalam suatu medan kekuatan yang bersifat psikologis. Medan kekuatan tersebut disebut sebagai &#8220;life space&#8221; yang mencakup perwujudan lingkungan tempat individu beraksi. Ia juga menyebutkan bahwa belajar belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif, yaitu hasil dari dua macam kekuatan (satu dari struktur medan itu sendiri dan kekuatan yang lain adalah dari kebutuhan dan motivasi internal individu). Kemudian Lewin memberikan peranan yang lebih pada motivasi ketimbang penghargaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Teori pendukung aliran kognitif lainnya adalah <strong>Teori Discovery Learning</strong>, yang ditemukan oleh J. Bruner dengan mendasarkan pada pendapat Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di kelas, maka dari itu Burner menggunakan cara yang disebut seperti di atas, yaitu <em>Discovery Learning</em>, murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat-pendapat lainnya yang mendukung <em>Discovery Learning </em>adalah pendapat dari <strong>J. Dewey</strong> dengan <em>Complete Art Reflective Activity</em> atau sering dikenal sebagai <em>Problem Solving.</em> Ide Bruner ini ditulis dalam bukunya berjudul <strong>Process of Education</strong> yang di dalamnya melaporkan hasil dari suatu konferensi di antara para ahli ilmu pengetahuan, pengajar, dan pendidik tentang pengajaran ilmu pengetahuan. Pendapatnya adalah, mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam membentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, dengan cara-cara yang bermakna pada level permulaan pengajaran, kemudian meningkat ke arah yang abstrak.</p>
<p style="text-align: justify;">Bruner juga menyatakan bahwa, untuk dapat mengembangkan program pengajaran yang efektif bagi anak muda adalah dengan mengkoordinasi metode penyajian bahan sesuai dengan tingkat kemajuan anak dalam mempelajari bahan pelajaran tersebut. Kemudian, dalam proses penyusunan kurikulum yang mencakup mata pelajaran harus ditentukan oleh pengerian yang sangat mendasar bahwa hal tersebut dapat diraih berdasarkan prinsi-prinsip yang memberikan struktur bagi mata pelajaran itu. Dalam proses belajar-mengajarpun guru harus mampu memberikan struktur dari mata pelajaran tersebut , kemudian siswa tersebut harus mampu mempelajari prinsip-prinsip mata pelajaran tersebut sehingga terbentuklah suatu disiplin.</p>
<p style="text-align: justify;">Bruner juga menyarankan bahwa seorang pengajar atau guru haruslah memberikan kepada muridnya untuk menjadi pemecah masalah dengan membiarkan siswa menemukan arti diri mereka sendiri dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam hal yang bisa dimengerti sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Bruner menyebutkan bahwa di dalam belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu:</p>
<ul>
<li>Memperoleh informasi baru</li>
<li>Transformasi informasi</li>
<li>Evaluasi</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>David Ausubel</strong> menyampaikan genre dari teori kognitif lainnya dengan membatasi teorinya untuk memahami dengan penuh arti materi verbal, jenis dari subyek permasalahan,yang berada di dalam kelas. Dalam teori Ausubel, yang membedakan dengan teori Bruner adalah, teori Ausubel ini terkait dengan pemahaman dasar dan arti, namun sebaliknya, Bruner tidak menyimpulkan bahwa hal ini harus dilakukan dalam sebuah indikasi penemuan pemahaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Ausubel memandang bagian dari kegagalan pemahaman teori-teori untuk memberikan keberhasilan pemecahan permasalahan pendidikan dalam kecenderungan fokus hanya pada satu jenis pemahaman terhadap materi yang diingat. Menurutnya lagi, belajar menerima dan menemukan masing-masing bisa dalam bentuk hapalan atau bermakna, tergantung pada situasi terjadinya belajar. Ia menyebutkan bahwa belajar dengan hafalan akan berbeda dengan belajar bermakna. Menghafal pada dasarnya mendapatkan informasi yang diperoleh ke dalam struktur kognitif belajar. Hafalan itu sendiri adalah dengan mengingat satu-persatu kata, sedangkan &#8220;belajar bermakna&#8221; merupakan rangkaian proses belajar yang memberikan hasil yang bermakna.  Belajar akan dikatakan bermakna jika informasi yang dipelajari dirangkai sesuai dengan struktur kognitif pelajar, sehingga pelajar mampu mengaitkan pengetahuan baru tersebut dengan struktur kognitifnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ausubel meyakini bahwa pengatur kemajuan belajar mampu memberikan 3 manfaat, yaitu:</p>
<ol>
<li>Pengatur kemajuan belajar (advance organizers) dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa.</li>
<li>Pengatur kemajuan belajar dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari pelajar saat ini dengan apa yang akan dipelajari pelajar pada masa mendatang, sehingga:</li>
<li>Akan mampu membantu pelajar tersebut untuk memahami beban belajar secara lebih mudah.</li>
</ol>
<p>Berikut adalah sepuluh (10) <strong>kesamaan teori Bruner dan Ausubel</strong>:</p>
<ol>
<li><strong>Teori Kognitif Bruner dan Ausubel</strong> menekankan arti pemahaman. Walaupun Bruner meyakini bahwa arti pemahaman harus ditemukan secara induktif dan Ausubel meyakini bahwa hal ini dapat diasimilasi secara deduktif, kedua-duanya saling memberikan tujuan.</li>
<li>Dua teori tersebut menekankan pada hubungan. Bruner menekankan bagaimana segala sesuatu dipelajari harus dihubungkan dengan hal-hal lain dan bagaimana seseorang menemukan arti dalam hubungan ini, sementara Ausubel menjelaskan bagaimana materi baru sipelajari, dihubungkan, atau ditempatkan untuk pengadaan ide-ide dalam susunan kognitif.</li>
<li>kedua teori tersebut menekankan pemahaman isi pokok dari materi daripada mengingat secara harfiah.</li>
<li>Teori Bruner dan Ausubel sama-sama membahas tentang organisasi atau susunan dari disiplin dan Ausubel menjelaskan bagaimana materi dapat diatur dalam susunan kognitif.</li>
<li>Kedua teori tersebut menyetujui bahwa pemahaan sekolah harus diselidiki pada tingkat kerumitan setiap harinya dan tidak mengurangi pada situasi laboratorium yang telah disederhanakan.</li>
<li>Kedua teori kognitif tersebut menekankan kepentingan bahasa sebagai dasar dalam pemikiran manusia dan komunikasi, serta lata utama dalam pemahaman sekolah.</li>
<li>Keduanya adalah sama-sama <strong>teori kognitif</strong>, yaitu mencoba untuk memahami proses dalam pikiran daripada hanya sekedar mempelajari dunia fisik eksternal.</li>
<li>Kedua teori tersebut menyetujui kebutuhan pokok untuk perbaikan perintah, yaitu untuk membuat pemahaman ruang kelas yang berguna bagi siswa.</li>
</ol>
<p>Artikel Terkait:</p>
<p><a title="hubungan teori belajar paham kognitif dan pengembangan ekstra kurikuler" href="http://suryantara.wordpress.com/2011/09/26/panduan-pengembangan-diri-melalui-pelayanan-konseling/" target="_blank">Panduan Pengembangan Diri Melalui Ekstrakurikuler</a></p>
<p><a title="teori belajar kognitif dan rancangan penilaian hasil belajar" href="http://suryantara.wordpress.com/2011/09/14/rancangan-penilaian-hasil-belajar/" target="_blank">Tips Merancang Penilaian Hasil Belajar</a></p>
<p><a title="Bentuk Laporan Hasil Belajar Peserta Didik" href="http://suryantara.wordpress.com/2011/09/14/rancangan-penilaian-hasil-belajar/" target="_blank">Format, Draft Laporan Hasil Belajar Siswa</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikianlah penjelasan tentang <strong>Teori Belajar Aliran Kgnitif</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manajemenpendidikan.com/teori-belajar-aliran-kognitif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

